{
    "biblio_id": 409,
    "title": "PENYUSUNAN RENCANA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN  KAWASAN TAMAN WISATA ALAM (TWA) RUTENG (RESORT GOLO LUSANG)",
    "type": "LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG",
    "gmd_name": "LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG",
    "publisher_name": "POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG",
    "publish_place": "KUPANG",
    "publisher_year": "2023",
    "collation": "",
    "series_title": "",
    "call_number": "MSDH MAR 23",
    "language_name": "Indonesia",
    "source": "mixed material",
    "classification": "",
    "notes": "Hutan Ruteng pada awalnya berstatus hutan lindung seluas 17.857,60 hektar dan hutan produksi terbatas seluas 14. 388 hektar yang saat ini berada di wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Potensi kekayaan spesies terutama jenis burung, fungsi hidrologi untuk kota Ruteng dan Borong serta  wisata alam pegunungan hutan hujan tropis yang menarik dan mudah diakses oleh wisatawan menjadi dasar penetapan kawasan Hutan Ruteng seluas 32.248,60 hektar menjadi Taman Wisata Alam dengan Surat Keputusan Menteri  Kehutanan Nomor: 456\/Kpts-II\/1993 tanggal 24 Agustus 1993. TWA Ruteng saat ini berada di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur yang berkedudukan di Kupang. Tujuan dari praktek kerja lapang (PKL) ini adalah untuk mengetahui  tahapan penyusunan perencanaan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di Resort I  Golo Lusang TWA Ruteng. Prektek kerja lapangan ini dimulai pada tangal 23  Mey 2022 Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan PKL ini antara lain  Wawancara, Observasi dan Dokumentasi.  Berdasarkan hasil kegiatan PKL terkait tahapan penyusunan perencanaan  rehailitasi hutan dan lahan di Resort I Golo Lusang TWA Ruteng, yang dimulai  dari survei loksi, yang dimana luas keseluruhan kawasan TWA Ruteng mencapai  32.248,60 ha, dari luasan ini terdapat 75 ha yang mengalami kerusakan akibat  kebakaran. Dari luasan tersebut diadakan kegiatan penanaman yang dibagi  menjadi 3 blok tanam dengan luasan masing-masing blok 25 ha, setiap blok  dikelilingi patok batas sejumlah 20 patok sehingga jumlah patok yang dibutuhkan  dari 3 blok sebanyak 60 patok. Adapun Pola tanam yang digunakan dengan  menyesuaikan kemiringan lereng yaitu pola tanam jalur dengan mengikuti arah  garis kontur, dengan komuditi tanaman yang digunakan dalam rehabilitasi  (penanaman) yaitu Ngantol, Namut, Cambit Poco, dan Lince Timung dengan  jarak tanam setiap tanaman 3 x 3 meter dan membutuhkan bibit\/anakan sebanyak  83.333 bibit. Berdasarkan rencana penyusunan angaran kegiatan penanaman  membutuhkan biaya sebesar Rp. 4.293.075.000.000.",
    "image": "KEHUTANAN.jpeg.jpeg",
    "files": [
        {
            "slims:digital_item": {
                "#cdata": "MARTHEN BATE TAWELA"
            }
        }
    ],
    "name": [
        {
            "authors": {
                "author_name": "MARTHEN BATE TAWELA",
                "authority_type": "Pengarang"
            }
        }
    ],
    "input_date": "2025-09-02 09:39:18",
    "last_update": "2025-09-02 09:39:18"
}