{
    "biblio_id": 454,
    "title": "PERBANYAKAN VEGETATIF TANAMAN PINUS DENGAN TEKNIK CANGKOK DI RESORT PEMANGKUAN HUTAN (RPH) CEPOKO BAGIAN KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN (BKPH) PONOROGO TIMUR KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN (KPH) LAWU Ds",
    "type": "LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG",
    "gmd_name": "LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG",
    "publisher_name": "POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG",
    "publish_place": "KUPANG",
    "publisher_year": "2024",
    "collation": "",
    "series_title": "",
    "call_number": "MSDH FRU 24",
    "language_name": "Indonesia",
    "source": "mixed material",
    "classification": "",
    "notes": "Pinus merupakan salah satu genus pohon konifer atau semak dalam famili  Pinaceae (suku tusam-tusaman). Jenis tanaman dalam genus ini juga sering dikenal  dalam nama lokal pohon sonobar, tusam atau eru. Tumbuhan pinus adalah jenis pohon  resin (getah) yang dapat tumbuh hingga 80 meter dengan sebagian besar tumbuhan bisa  mencapai 15-45 meter. Tanaman Pinus memiliki manfaat yang cukup banyak yaitu  dapat diolah menjadi Gondorukem dan Terpentin. Gondorukem digunakan pada  industri minyak resin, sabun, bahan cat, semen, kertas, dan lain-lain, sedangkan  terpentin, yang adalah produk sampingan dari pengolahan gondorukem, dapat  digunakan dalam industri semir sepatu, logam dan kayu serta bahan kamper sintetis  (Sallata, 2013). Selain itu juga tanaman pinus dapat menjadi pilihan untuk dijadikan  sebagai tanaman reboisasi (Lempang, 2017). Perbanyakan atau pengembangbiakan tanaman pinus dapat dilakukan dengan dua  cara yaitu perbanyakan tanaman secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman  secara generatif adalah perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menggunakan  biji. Perbanyakan tanaman secara generatif memiliki kelebihan yaitu, penanganan yang  praktis atau mudah dengan harga yang relatif murah dan tidak memerlukan keahlian  yang khusus. Selain itu tanaman memiliki akar yang kuat dan kokoh, lebih mudah  diperbanyak dan jangka waktu berbuah lebih panjang. Sedangkan kekurangannya yaitu  waktu untuk berbuah lebih lama (Nursyamsi,2010). Selain itu perbanyakan secara  generatif memiliki beberapa kelemahan seperti, keturunan yang dihasilkan  kemungkinan tidak sama dengan induknya, persentase berkecambah yang rendah dan  membutuhkan waktu yang lama untuk berkecambah.",
    "image": "KEHUTANAN.jpeg.jpeg",
    "files": [
        {
            "slims:digital_item": {
                "#cdata": "FRUMENSIUS YOSMAN LEO NGETE"
            }
        }
    ],
    "name": [
        {
            "authors": {
                "author_name": "FRUMENSIUS YOSMAN LEO NGETE",
                "authority_type": "Pengarang"
            }
        }
    ],
    "input_date": "2025-09-04 09:57:21",
    "last_update": "2025-09-04 09:57:21"
}